4212
Rabu, 13 November 2013
Tsunami Di Serambi Mekah
Tsunami Di Serambi Mekah
Kesiapsiagaan kita dalam menghadapi gempa dan tsunami
menjadi wajib hukumnya karena kita memang tinggal di zona tersebut. Gempa besar
dan tsunami yang terjadi hampir 9 tahun lalu tentu masih terngiang-ngiang dalam
ingatan kita khususnya orang Aceh. Gempa dan tsunami 26 Desember 2004 tersebut
telah melululantahkan provinsi Aceh, Sumatra Utara dan beberapa negara
tetangga. Kejadian ini telah mengingatkan kita bahwa gempa dan tsunami bisa
terjadi kapan saja tanpa ada peringatan.
Setelah gempa dan tsunami 2004, banyak pakar seismologi, geologi,
geofisika, geodesi, dan berbagai cabang ilmu kebumian telah melakukan riset.
Mereka juga sudah memublikasikan tulisan mereka tentang bencana yang maha
dasyat tersebut dalam seminar-seminar dan jurnal-jurnal ilmiah. Bagi
kawan-kawan yang sempat ikut seminar dan membaca pembahasan mereka melalui
jurnal ilmiah tentu sudah memahami penyebab terjadinya tsunami Aceh tahun 2004.
Paska bencana tsunami yang melanda Aceh pada tanggal
26 Desember 2004, Indonesia, melalui Pemerintah dan sejumlah institusi swasta,
mulai mencurahkan perhatiannya dengan sangat aktif untuk penanggulangan
bencana. Indonesia adalah salah satu negara yang rawan bencana. Data Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipublikasikan pada hari Kamis, 20
Desember 2012, oleh Dr. Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa terdapat 386
kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah
rawan tinggi dan sangat tinggi dari bahaya gempa bumi. Belum lagi bahaya banjir
meliputi sebanyak 315 kabupaten/kota dengan penduduk 60,9 juta jiwa yang
tinggal di daerah rawan banjir tersebut. Masih menurut BNPB, dari tahun
1629 hingga 2012, Indonesia sendiri telah tercatat dihantam tsunami sebanyak
172 kali. Hal ini berarti bahwa rata-rata setiap dua tahun sekali, Indonesia
dihantam tsunami dengan itensitas jangkauan yang berskala rendah. Negara-negara
tetangga kita-pun demikian halnya tidak jauh dengan Indonesia sendiri, misalnya
Australia yang tercatat rata-rata setiap tiga tahun sekali baru terkena .
Alasan utama Indonesia lebih rawan terhadap tsunami
dibandingkan negara-negara lain adalah karena di tanah Pertiwi ini sering
terjadi gempa bumi. Gempa bumi penyebab tsunami tersebut lebih banyak
disebabkan oleh aktivitas tektonik bawah laut. Lebih lanjut, aktivitas tektonik
Indonesia terjadi karena negara kita merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik sekaligus,
yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Semakin
banyak lempeng dan semakin sering pergeseran lempeng bawah laut terjadi maka
wilayah di sekitarnya semakin rawan tsunami.
Gempa dan Tsunami 2004 tercatat sebagai gempa dengan
bidang rekahan/patahan (rupture) terpanjang dalam sejarah gempa yang
tercatat oleh manusia. Rekahan/patahan sepanjang ±1600 Km dimulai dari
epicenter gempa dekat pulau Simeulue dan menerus sampai ke kepulauan Andaman
dengan kecepatan ±2 Km/detik. Rekahan/patahan yang panjang ini selesai dalam
waktu ±10 menit dan menjadi sumber gangguan volume air laut yang selanjutnya
menjadi sumber tsunami yang sangat besar (Kerry Sieh, 2007). Kejadian Gempa dan
tsunami Aceh 2004 tersebut diyakini bukan yang pertama namun yang kesekian
kali.
Menurut Yuichiro, rekahan/patahan ini tidaklah satu
garis melainkan bercabang-cabang dan bersegmen-segmen. Hasil percabangan
rekahan/patahan ini dia dapat berdasarkan hasil permodelan gelombang tsunami.
Modeling terbalik dilakukan untuk mendapat geometri sumber tsunami. Kalau
biasanya ahli tsunami memodelkan tsunami dengan terlebih dahulu punya data
geometri sumber namun yang dia lakukan adalah sebaliknya. Hasil dari permodelan
tersebut dapat dilihat pada gambar di samping.
Percabangan rekahan/patahan yang terjadi di dasar
samudra atau dasar laut menyebabkan ada kawasan-kawasan yang sekitar Aceh Besar
mendapatkan gelombang tsunami tinggi dan lebih duluan dan lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah yang lain. Kecamatan Lhoknga yang terdapat di Kab.
Aceh Besar diterjang gelombang tsunami setinggi 30 meter sedangkan kawasan
Meulaboh di Kab. Aceh Barat yang berada di pantai Barat Aceh malah memiliki
ketinggian tsunami jauh di bawah 30 meter. Selain itu, tingginya tsunami di
kawasan Lhoknga juga diakibat oleh besarnya nilai slip (bagian yang naik
dan turun) daripada rekahan/patahan dibandingkan dengan segmen yang lain.
Data atau nilai yang saya sebutkan di atas adalah
berdasarkan permodelan dengan kondisi yang hampir sama dengan apa yang terjadi
pada tanggal 26 Desember 2004 yang dilakukan oleh Yuichiro dan kawan-kawan.
Selain berdasarkan model, kenyataan bahwa adanya rekahan sepanjang ±1600 Km ini
juga bisa dibuktikan dengan adanya sisi pulau di dekat zona rekahan/patahan
yang naik dan turun.
Suatu bencana mungkin tidak bisa dihindari. Namun
demikian, jika bencana itu terjadi, kerugian yang ditimbulkan oleh bencana
setidaknya bisa diminimalisasi. Oleh sebab itu, dalam artikel ini
“penanggulangan bencana” diartikan sebagai usaha-usaha untuk menanggulangi atau
setidaknya meminimalisasi dampak bencana yang mungkin timbul.
Di Indonesia sendiri baru setelah terjadi bencana yang
besar, seperti tsunami Aceh tahun 2004, melakukan kerja-sama yang gencar
antar-pemerintah dalam dan luar negeri untuk penanggulangan bencana, misalnya
antara Indonesia dan Australia dengan dibentuknya Australia-Indonesia Facility
for Disaster Reduction (AIFDR) pada tanggal 15 Juli 2010. AIFDR ini bertujuan
untuk meminimalisasi dampak buruk bencana alam dengan memperkuat kapasitas
nasional dan lokal dalam penanggulangan bencana di Indonesia, dan mempromosikan
daerah yang lebih tahan bencana. AIFDR juga memberikan pelatihan bagi
para manajer dan para pengambil keputusan terkait bencana
(http://www.aifdr.org/).
Meskipun demikian, menurut penulis, kerjasama ini
sangat rentan untuk surut dan melemah seiring berjalannya waktu jika tidak
terjadi bencana tsunami lagi, katakanlah dalam waktu sepuluh tahun ke depan.
Alasan utama yang memungkinan bahwa dukungan Pemerintah tersebut berangsur-angsur
surut adalah alokasi dana yang cukup besar untuk penanggulangan bencana dan
terkadang dirasa tidak lagi mendesak penyediaan dananya. Tentunya hal ini tidak
boleh terjadi. Meskipun menurut BNPB, diperkirakan hanya bencana
hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan putting beliung yang akan
mendominasi sepanjang tahun 2013, bencana geologi misalnya gempa bumi dan
tsunami tidak bisa diprediksi dan bisa terjadi kapan saja.
Suatu penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana
alam memerlukan sistem yang perlu bekerja secara bekesinambungan pula. Dalam
hal ini, penulis sangat setuju bahwa Indonesia mempunyai BNPB, yang
cikal-bakalnya telah ada sejak jaman awal kemerdekaan. BNPB inilah yang
merupakan salah satu Badan yang bisa menerapkan sistem penanggulangan yang
berkesinambungan atas bencana. Sebagai contoh keberhasilan BNPB adalah evakuasi
korban gempa bumi dengan sistem gotong-royong di Yogyakarta dan sekitarnya pada
tahun 2006. Pemulihan masyarakat Yogyakarta paska gempa pada saat itu bisa dirasakan
cukup cepat (VIVAnews).
Dengan kemajuan teknologi saat ini, sistem
penanggulangan bencana bisa ditetapkan berdasarkan simulasi-simulasi komputer.
Salah satu perangkat lunak gratis yang tersedia untuk simulasi bencana banjir
dan tsunami adalah ANUGA. Perangkat lunak ANUGA dikembangkan oleh ANU
(Australian National University) dan GA (Geoscience Australia) untuk
menyelesaikan model Saint-Venant sehingga bisa menyelesaikan masalah-masalah
aliran air. Dengan simulasi tsunami ANUGA, bisa diketahui wilayah mana
saja yang akan tenggelam, seberapa cepat wilayah itu tenggelam, dan wilayah
mana saja yang bisa digunakan untuk rute penyelamatan. Salah satu contoh hasil
simulasi tsunami ANUGA dapat dilihat di ANU website. ANUGA sendiri telah
dipercaya Australia dalam simulasi-simulasi bencana yang disebabkan oleh aliran
air.
Meskipun demikian, ANUGA selalu di-update berdasarkan
perkembangan ilmu numeris matematis yang lebih efisien secara perhitungan. Dari
sini cukup jelas bahwa di Australia, perangkat lunak untuk simulasi pun juga
selalu diberi dukungan yang berkelanjutan dengan adanya update yang
terus-menerus. Perlu dicatat bahwa meskipun ANUGA dikembangkan oleh Australia,
perangkat lunak ini boleh dimanfaatkan oleh siapa saja dan negara mana saja,
termasuk Indonesia tentunya.
Penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana mutlak
diperlukan. Alasan yang sangat penting adalah karena nilai kerugian bencana
alam bisa menjadi tak terhingga. Kerugian tsunami Aceh 2004 sangat jelas, yaitu
hampir semua wilayah Aceh rusak total yang meliputi ribuan bangunan, hutan, dan
lahan pertanian menjadi luluh lantak. Lebih dari 150 ribu orang meninggal.
Andai kerugiannya hanya bangunan ataupun sarana dan prasarana saja, masyarakat
masih bisa menggantinya dengan membuat yang baru. Namun demikian, ratusan ribu
orang meninggal karena bencana, tentu merupakan kerugian yang tak tergantikan
dan tak terhingga nilainya.
Sebagai penutup, penulis sangat menekankan arti
pentingnya penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana alam di Indonesia.
Seluruh elemen masyarakat juga sudah semestinya mendukung penanggulangan
bencana yang berkelanjutan
Jawablh Pertanyaan di bawah ini !
1. Jika anda yang mengalami musibah itu
bagaimana perasaan anda dan apa yang anda lakukan agar timbul semangat hidup
yang baru ?
2. Menurut anda sikap apa yang harus
kita lakukan untuk menanggulangi musibah tsunami, berikan alasannya dan
contohnya !
3. Bagaimana cara anda membantu korban
tsunami untuk mengembalikan semangat hidupnya serta memupuk percaya diri ?
4. Menurut anda apakah dengan
terjadinya tsunami akan menyadarkan orang-orang yang melenceng dari syari’at
Islam, berikan alasannya !
5. Jika anda menjadi tokoh agama
setempat, bagaiman upaya anda untuk menyadarkan orang-orang yang menyeleweng
dari syari’at Islam agar terhindar dari musibah seperti halnya tsunami !
Kamis, 31 Oktober 2013
Rabu, 30 Oktober 2013
Sinopsis Buku Meaningful Learning
Judul :
Meaningful Learning (Re-investasi Kebermaknaan
Pembelajaran)
Penulis : Drs. Abdurrahman,
M.ag.
Editor : Junda Tsalatsia
Penerbit : PUSTAKA PELAJAR
Tahun
: 2007
Jumlah
halaman : 144 Lembar
ISBN : 978-979-1277-70-9
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam buku ini tersimpan suatu keinginan yang mendalam untuk
mengevaluasi pendidikan serta merevitilisasinya kembali. Tujuannya adalah agar
manusia melalui itu bisa kembali menemukan makna. Pendidikan adalah proses yang
ditujukan agar manusia mengolah diri untuk mencapai kesadaran dalam hidup.
Kesadaran yang dimiliki seseorang pada nantinya akan mengantarkannya pada
penemuan makna dalam hidup.
Demikian pula dalam proses pembelajaran, interaksi anatara elemen
di dalamnya hendaklah dibangun dalam suatu kerangka tersebut di atas.
Pembelajaran hendaklah diarahkan bagi penemuan value yang benar-benar berguna
bagi anak didik sehingga mereka bisa me-mange massa depannya, sebagaimana
masksud pendidikan antisipatoris.
Diatas segala itu buku ini, hadir sebagai sarana untuk menyampaikan
kekurangan atau kelemahan yang perlu ditata ulang dalam proses pembelajaran
agar menjadi yang lebih baik. Serta memilki tujuan jangka panjang yaitu
membangun menusia-manusia yang berdedikasi baik secara jasmani maupun rohani.
BAB II
SINOPSIS
A.
DAFTAR ISI
Bagian Kesatu
MENEGMBALIKAN
HABITAT PEMBELAJARAN ---1
Antara Pendidikan dan Transformasi Kemanusian ---3
Problematika Pengajaran dan Pendidikan Islam ---13
Collective Consciousness sebagai sebuah tahapan ---19
Bagian Kedua
TANTANGAN
DAN PEMECAHAN MENGGUGAH KEMBALI KESADARAN 31
Menggugah kembali Kesadaran ---35
Kebekuan sebagai sebuah Masalah ---40
Penyumbatan Proses Penyadaran ---50
Menegaskan Kembali tujuan Pendidikan Islam di era
Modern ---52
Leadership pendidikan Islam ---62
Bagian ketiga
MENYEGARKAN
KEBERMAKNAAN DALAM PEMBELAJARAN (MEANINGFUL LEARNING) ---71
Spiritual Learning ---73
Pembenahan Segera ---78
Spiritualisme sebagai Spirit ---81
Spiritual Learning: Sebuah Perenungan ---83
Pembenahan Lembaga ---87
Self Acknowlegment ---91
Contextual Learning ---92
Life University ---98
Membangun Progresifisme Islam ---111
Bagian Keempat
HOLISTIC
CONSCIOUSNESS DALAM MENGAJAR ---119
Variabel Pembelajaran ---121
Dimensi Manusia dalam Pendidikan Islam ---126
Orkestrasi ---133
B.
INFORMASI RINGKAS BUKU
Bagian Pertama
MENGEMBALIKAN HABITAT
PEMBELAJARAN
Antara
Pendidikan dan Transformasi Kemanusian
Pelaku
pendidikan harus merubah cara berfikir bahwa belajar itu sekedar atau sama
dengan learning to know, mengetahui yang sudah ditemukan. Belajar harus
menghasilkan pengetahuan dan membangun kecakapan hidup. Pendidikan akan memproses anak
didik untuk mampu memecahkan satu masalah. Dengan proses yang demikian, para
peserta didik akan belajar dan menemukan kemampuan untuk menjadi diri sendiri
yang mandiri.
Problematika Pengajaran dan
pendidikan Islam
Pendidikan islam saat ini belum
mampu memainkan perannya sebagai agen perubahan social namun pendidikan islam
dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Pendidikan islam harus selalu terbuka
terhadap berbagai kemungkinan baru yang muncul sebagai konsekuensi dari
interaksi terhadap proses global. Ini berarti pendidikan Islam saat ini
memerlukan format dan formulasi baru dalam segi landasan agar nantinya pendidikan
Islam dapat berperan dalam menjawab tuntutan zaman, memberi kontribusi terhadap
perkembangan dunia serta mampu membaca setiap permasalahan dunia secara terbuka
dan kritis.
Collective Consciousness sebagai
Sebuah Tahapan
Paradigma
kritis akan mengantarkan murid untuk mampu melakukan identifikasi terhadap
problem-problem, menganalisa kemudia mentransformasikannya ke dalam aksi riil.
Pendidikan sebagai sebuah proses transfer meliputi pengetahuan (knowledge), nilai atau makna (value) dan kesadaran adalah titik ujung
yang akan dituju. Proses transfer bermula dari cara seseorang mengajarkan ilmu
dan pengetahuan itu sendiri. Diperlukan sebuah pemahaman yang lengkap tentang
pembelajaran yang dapat melahirkan kebermaknaan dalam kehidupan manusia. Pengajar
harus bisa menyatukan emosi dan perasaannya untuk mengolah kondisi siswa yang
beragam adalah sebuah kunci awal bagi setiap guru untuk membuka ruang emosi
bagi proses pembelajaran yang akan menyatukan guru tersebut dengan siswa.
Bagian Kedua
TANTANGAN
DAN PEMEVAHAN MENGGUGAH KEMBALI KESADARAN
Abdul Wahid menulis
beberapa masalah utama yang mewarnai perjalanan dunia pendidikan Islam yang
dapat diklasifikasikan ke dalam lima hal; Pertama,
Dicotomic, adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kedua, Too general knowledge, sifat ilmu
pengetahuannya yang masih general/umum. Ketiga,
Lack of spirit, rendahnya semangat untuk melakukan penelitian/penyidikan. Keempat, Memorisasi, system hafalan. Kelima, Certificate oriented, belajar
yang hanya mengejar sertifikat/ijazah bukan “kualitas subtansial”.
Menggugah
kembali kesadaran
Bila ditanya
mengenai penyebab ketidakmajuan suatu kaum, salah satu jawaban yang bias
diberikan adalah karena tidak adanya kesadaran kritis dari kaum tersebut.. Lambat laun daya kritis masyarakat muslim terkubur bersama
dengan merebaknya kebiasaan-kebiasaan non ilmiah yang seharusnya dijauhi oleh
seorang ilmuwan. Kesadaran kritis haruslah ditempatkan
sebagai satu pisau untuk membedah segala problem. Islam adalah salah satu
rentang sejarahnya pernah tersudut pada posisi yang sungguh memperhatinkan.
Kebekuan merupakan Masalah Besar
Pada dasarnya pendidikan Islam merupakan
satu perangkat penting yang dapat melakukan perubahan sosial. Pendidikan Islam kurang melakukan refleksi terhadap perubahan,
justru ia seing diombang-ambing oleh perubahan-perubahan yang ada. Dengan kata
lain pendidikan Islam sekedar menginginkan
pihak lain tanpa mampu menonjolkan identitasnya secara kritis. Masalahnya
terletak pada mentalitas anak didik, kreatifitas, motivasi, ketrampila teknis,
serta kecerdasan anak didik. Untuk merealisasikan semua itu, kesadaran
menempati garda terdepan.
Pendidikan Islam
harus menghindari pengaruh paradigma konservatif dalam praktiknya. Umat Islam
harus berupaya untuk tidak mengubah agama, melainkan mereka perlu melakukan
rekonsiliasi pemahaman tentang agama, sebuah kesadaran kritis agar mampu
memberikan satu kerangka konseptual secara valid kepada umat secara luas.
Penyumbat
proses penyadaran
Secara sederhana
tersumbatnya transformasi kritis pada umat Islam tersebut karena dipengaruhi
oleh beberapa hal. Pertama, adanya
anggapan dominan yang lantas dijadikan pedoman sebagai sebuah hukum kelaziman
dalam masyarakat muslim. Kedua,
kesadaran umat islam juga terhalang oleh pengaruh suatu paham yang ada dalam
masyarakat sebagai sebuah hasil dari proses interaksi. Ketiga, kesadaran kritis tersumbat akibat sebuah proses mental
panjang yang mengendap dalam pemikiran msyarakat muslim tanpa mendapat
kritikan-kritikan dari dalam. Keempat,
kesadaran masyarakat muslim juga terhambat perkembangannya oleh karena
keengganan kolektif umat Islam itu sendiri yang ingin bisu.
Menegaskan
kembali tujuan Pendidikan Islam di era modern
Islam mengajarkan
kepada umatnya untuk melakukan segala potensi yang dititipkan Allah sejak lahir
di dunia. Pendidikan merupakan bagsin terpenting dalam mengapai cita-cita dan
harapan. Jadi, pendidikan yang sebenarnnya adala yang mampu mengkoordinasikan
segala keinginan, menggali potensi, mengenali kapabilitas dan kecenderungan
yang ada, kemudian membekali dengan ketrampilan sehingga mampu berinteraksi
dengan realitas yang ada dan ikut bangkit mencapai idealisme dan
sasaran-sasaran yang mememungkinkan untuk dicapai. Pendidikan islam kiranya
tidak jauh dari kenyataan semacam itu.
Leadership
Pendidikan Islam
Pendidikan
membutuhkan sebuah sistem kepemimpinan yang berdiri di atas pendidikan
rakyatnya. Dunia tanpa pemimpin adalah ironi. Pemimpin sangat berpengaruh
terhadapa sistem kerja masyarakat yang dipimpinnya. Yang masih menjadi penyakit
dalm tubuh pendidikan islam adala lesunya instansi-instansi pendidikan dalam
menciptakan pergerakan umat yang sehat. Hal tersebut mengakibatkan lemahnya
pembacaan setengah bagian lagi dari dimensi kehidupan ini.
Bagian Ketiga
MENYEGARKAN
KEBERMAKNAAN DALAM PEMBELAJARAN (MEANINGFUL LEARNING)
Spiritual
Learning
Dunia pendidikan sering
menitikberatkan pada mengembangkan kecerdasan teknis kognitif. Manusia modern
terjebak dalam hal rasional, sehingga melepaskan otoritas irrasional maupun
metafisik semacam spiritual. Kondisi seperti itu mengakibatkan pembunuhan
karakter yang dimiliki manusia. Namun, dalam prosesnya meliputi keseluruhan
unsur baik kognitif, afektif mapun psikomotirik. Dan dalam praktiknya-pun
bergantung pada konsisi jiwa, pribadi anak didik, kurikulum dan spiritualisme. Sehingga
timbul Banyak penyelewengan-penyelewengan yang terjadi di dunia pendidikan.
Pembenahan Segera
Krisis pendidikan yang sedang
terjadi ini meupakan imbas dari teledornya stakeholder
pendidikan, Sehingga hasil yang dipetik sekedarnya saja. Spiritualisme
sebagai sumber makna kehidupan terabaiakan dalam proses pendidikan. Dalam
kondisi semacam ini seharusnya pendidikan Islam menemukan kembali momentumnya
untuk menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat. Pendidikan Islam mampu
mengambil spiritnya sebagaimana diteladankan oleh rasulullah Saw yang telah
merombak struktur tradisi masyarakat jahiliyah.
Untuk mencapai harapan tersebut
tentunya pendidikan Islam harus dirumuskan dalam kerangka konseptual dengan
tujuan yang jelas. Kualitas dari tujuan pendidikan islam yang dinamis dan
berkembang itu harus diaplikasikan dalam wilayah riil kehidupan masyarakat. Spiritualisme sebagai Spirit
Pentingnya mempertimbangkan kembali
khasanah spiritualisme, moral dari anak didik harus mendapat bimbingan terus
menerus lebih-lebih di era modrenisasi ini. Manusia sebagai mahkluk yang
materiil sekaligus immateriil merupakan keunikan tersenidir dibanding makhluk
lainya. Antara materiil dan immateriil dapat berkembang subur apabila terus
dipupuk secara kontinu.
Spiritual Learning: Sebuah
Perenungan
Pembelajartan yang bervisi
penyadaran spiritual merupakan proses untuk mereposisi pendidikan tempatnya
sebagai jalan mencari hakikat esensial
diri manusia. Pendidikan yang mengintegralkan sistem nilai budi pekerti ke
dalam setiap ranah bidang studi pendidikan berbasis nurani. Islam memberikan
kesimpulan bahwa pendidikan budi pekerti dan khlak adalah ruh pendidikan Islam
dan mencapai akhlak yang sempurna. Tetapi, tidak lantas pendidikan Islam hanya
memperhatikan sisi jiwa ini belaka. Seperti halnya, Teknologi itu netral, yang
berbahaya bukan teknologi, melainkan mental manusia yang tidak terkontrol.
Sehingga yang terjadi anarkisme dan diperlukan transformasikan diri ke arah
kesadaran.
Pembenahan Lembaga
Satu sifat dan keistimewaan dari
pendidikan, yaitu selalu bersifat maju atau dinamis. Pendidikan mencakup tujuan, proses, target, metode dan fasilitas dalam
rangka melahirkan manusia yang mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan
lingkungannya, demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik. Dalam pendidikan yang
harus dibentuk bukan hanya memiliki saja, tetapi juga sikap intelektual yang mencakup penguasaan cara
belajar yang baik untuk memberi sebuah kunci pengetahuan. Inilah pintu gerbang
pencerahan. Intelektual yang tercerahkan adalah seorang intelektual yang mampu
meraih kehidupan yang penuh arti.
Self
Acknowlegment
Manusia
memiliki tugas pertama untuk menjadi dirinya yang sebenarnya yaitu, menerima
tanggung jawab untuk menjadi pembelajar. Sifat itulah yang membedakan dari
makhluk lain, dan mencari jati diri atau legenda pribadi, hanya dengan
nilai-nilai spiritualitas-lah sosok manusia bias mengetahui dirinya. Dalam
spiritualisme pembelajaran ini, guru hendaklah mempersiapkan kematangan emosi
dan spirit sebelum bertemu dengan siswa atau murid diruang kelas. Dengan
spiritualitas, manusia akan selalu berhati-hati dalam bertindak dan selalu
mengkoreksi diri, bukan orang lain.
Langkah yang komperhensif,
dalam usaha mencapai spiritual learning adalah Pertama, melalui pendekatan informative, Kedua, Kontemplasi, Ketiga,
substitif, Keempat, situasional, Kelima, kausalitas, Keenam, dialogis, Ketujuh,
pelatihan dan bimbingan secara kontinu serta Kedelapan, pendekatan lain.
Contexttual Learning
Pembelajaran kontekstual didasarkan
pada pemikiran yang menjelaskan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa
yang dipelajari merupakan bagian kecil kehidupan yang bagian itu terkait dengan
apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi
disekelilingnya. Dalam proses belajar mengajar, contextual learning dilakukan
dengan melakukan apresiasi varibel kurikulum, guru dapat menggunakan strategi
pembelajaran kontekstual untuk lebih mengerti kondisi hidup riil anak didik dan
memberikan kegiatan yang bervariasi. Dalam pembelajaran kontekstual, keaneragaman harus mampu diterjemahkan
guru dalam proses belajar mengajar, baiik pemilihan materi, penggunaan metode
mapun setting pembelajaran. Pembelajaran ini, siswa lebih bertanggung jawab
atas dirinya sendiri dan sekitarnya. Mereka akan menggunakan pengetahuan dan
ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi dalam belajar.
Life
University
Sekolah kehidupan
ialah pembelajaran yang dilakukan sepanjang kehidupan. Setiap orang akan mengahadapi
dan mengalaminya. Fenomena kehidupan yang ada berfungsi mendewasakan pikiran
untuk menentukan sebuah pilihan hidup di antara proses berfikir yang di
anugerahi Tuhan. Dalam sekolah kehidupan yang menjadi materi pembelajaran
adalah baik-buruk realitas itu sendiri, dan yang menjadi guru adalah pribadi
masing-masing. Tidak ada yang patut bertanggung jawab dan disalahkan dalam
menentukan sebuah pilihan yang telah ditetapkan oleh masing-masing individu.
Realitas yang ada itulah yang menjadi basis sekolah kehidupan.
Membangun
Progresifisme
Progresif
merupakan salah satu pola piker, cara pandang seseorang yang lebih
mengedepankan aspek perubahan dan kemajuan. Cara pandang yang selalu
berorientasi pada kemajuan dan perbaikan dalam segala hal. Pendidikan Islam
harus mampu mempunyai paradigma tersebut sebagai landasan dalam pengembangan ke
depan. Progresifisme pendidikan dilakukan secara integral
dengan melibatkan seluruh komponen pendidikan. Hal inilah yang merupakan segi
poditif dari aliran progresifisme. Mereka diberikan kemerdekaan untuk
berinisiatif dan percaya pada diri sendiri. Kebebasan yang demikian itu
merupakan predikat untuk dapat menerima kenyataan.
Progesifisme Pendidikan
Islam
Peran
paradigma progresif sangat besar bagi dunia pendidikan. Paradigma
progresif belum sepenuhnya masuk dalam pendidikan Islam, namun paradigma ini dijadikan sebagai salah satu paradigma yang dapat digunakan dan pendidikan Islam. Paradigma
progresif Islam adalah sebagai landasan dan motivasi dalam pengembangan
pendidikan guna meraih cita-cita pendidikan Islam yaitu menciptkan manusia yang
seutuhnya yang dapat mengembangkan segala daya jasmani dan ruhaninya dalam
rangka mendapatkan kebahagian yang sejati bukan hanya dunia tapi juga akhirat,
bukan Cuma jasmani tapi juga juga ruhani.
Bagian Keempat
HOLISTIC
CONSCIOUSNESS DALAM MENGAJAR
Variabel Proses pembelajaran
Dalam pembelajaran, guru
dituntut untuk menyampaikan materi dengan cara yang mudah. Intelektualitas,
kepekaan siswa dan keadan murid juga tidak kalah penting. Sayangnya sampai hari
ini masih banyak guru-guru yang menggunakan cara-cara konvensional dalam
menyampaikan materi kepada anak didik. Guru dalam banyak hal adalaha sebagai
fasilitator namun tidak semaksimal bila kita lihat fenomena yang
terjadi di sekolah-sekolah. Peran guru mencakup tiga
hal yaitu Pertama. Guru
sebagai pendidik professional, Kedua, Guru sebagai pembimbing, Ketiga, Guru
sebagai pengembang kurikulum. Pendidikan itu sendiri adalah proses interaksi
antara anak didik dengan dirinya sendiri, anak didik dan alam sekitar dan
interaksi anak didik dengan tuhan yang maha kuasa, atpi banyak penerapan metode
pengajaran kita yang memisah-misahkan ketiga interaksi tersebut.
Dimensi Manusia Dalam
Pendidikan Islam
Dalam pendidikan Islam
dibahas mengenai manusia sempurna menurut Islam, salah satunya kemampuan untuk
berhubungan dengan dirinya sendiri. Pendidikan yang diusung oleh pendidikan
Islam adalah menitiktekankan pada perkembangan seluruh analisis di atas yaitu
manusia yang sadar akan eksistensinya sebagai bagian dari makrokosmos yang berkewajiban
memelihara kelangsungan hidup bersama. Sistem dan metode yang banyak digunakan
guru masih monolitik. Sehingga siswa ataanak didik dikondisikan untuk selalu
mengikuti guru dengan berbagai metodenya. Padahal kebiasaan tersebut lambat
laun mengakibatkan budaya inlander yang berkepanjangan.
Sapaan Kesadaran kepada
Murid
Sapaan
kesadaran artinya adalah menyentuh selururh siswa dengan sepenuh hati. Kesadarn
di sini adalah yang keluar dari diri seorang guru ketika hendak memulai proses
belajar mengajar. Sapaan semacam ini berguna ketika
seorang guru membuat beberapa aturan ketika pembelajaran dijalani.
Orkestrasi
Dalam
proses balajar mengajar, orkestasi segala variabel itulah yang akan menciptakan
pendidikan yang sesungguhnya. Orkestrasi itu meliputi segala hal yang berkaitan
dengan pembelajaran yaitu lingkungan temat kerja, materi belajar, persiapan
atau rancangan pengajaran, orkestrasi penyampaian dan seterusnya, orkestrasi
emosional-spiritual dan seterusnya. Dengan mengaitkan variabel kognitif, avektif
dan psikomotorik maka lahir empati dalam proses belajar mengajar. Dengan
terciptanya kaitan emosi antara siswa dengan siswa lainnya, guru dan siswa,
maka hasil pembelajaran akan lebih mendalam dan bermakna.
C.
KESIMPULAN
Pendidikan adalah proses kompleks yang ditujukan untuk membantu
manusia menemukan ‘makna’ dalam kehidupan. ‘Makna’ adalah spirit yang bisa
mendorong manusia menuju kehidupan yang berguna, mantap serta kehidupan yang
penuh arti (meaningful life). Namun, kenyataannya pendidikan bukan untuk
mendidik anak, tapi tapi pendidikan hanya menyampaikan informasi, mengirim
petuah-petuah supaya anak didik mendengar dan merekam semua itu dalam memori
mereka. Inilah sebuah penjajahan model baru, penjajahan atas kemerdekaan
perkembangan anak didik untuk menjadi diri mereka senidiri. Tentunya kita tidak
akan bisa menerima kenyataan semacam ini. Guru, orang tua, pembimbing dan semua
yang terlibat sebagai praktisi pendidikan hendaklah kembali sadar akan
pentingnya penemuan makna dalam proses pembelajaran yang akan melahirkan
‘kesadaran’.
BAB III
ANALISA BUKU
Di dalam buku Meaningful
Learning (Re-investasi Kebermaknaan Pembelajaran) ini mengemukakan bahwa belajar
dikatakan bermakna (meaningful) jika informasi yang akan dipelajari peserta
didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik
sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif
yang dimilikinya. Dan buku ini juga mengulas bahwa pembelajaran yang bermakna
terjadi dengan baik apabila terdapat unsur, yaitu : (1). Meteri yang akan
dipelajari harus bermakna secara potensial, (2). Anak yang akan belajar harus
bertujuan melaksanakan belajar bermakna sehingga mempunyai kesiapan dan niat
untuk belajar bermakna. Serta, ada tiga kebaikan
dari belajar bermakna yaitu : (a) Informasi yang dipelajari secara bermakna
lebih lama dapat diingat, (b) Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan
proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip, (c) Informasi yang
dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun
telah terjadi lupa.
Guru jangan terlalu membatasi ruang
gerak anak, bantu mereka memikirkan sesuatu atau gagasan original. Kembangkan
tugas yang dapat merangsang kemauan belajar, berikan kesempatan untuk berfikir
reflektif terhadap masalah yang dihadapi. Ciptakan kegiatan yang menarik dan
menyenangkan, libatkan peserta didik secara optimal, bantu mereka mengembangkan
prinsip dan rasa percaya dirinya. Semua itu akan berjalan dengan lancar apabila
ada kerja sama yang baik antara guru, peserta didik, orang tua dan
lingkungannya. Namun, dengan adanya model pembelajaran yang inovatif ini
diharapkan pembelajaran di sekolah menjadi lebih menyenangkan, sehingga
pembelajarannya menjadi optimal dan hasilnya maksimal.
BAB IV
PENUTUP
Puji syukur saya panjatkan kepada
Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Strategi Belajar Mengajar yaitu membuat
sinopsis Meaningful
Learning (Re-investasi Kebermaknaan Pembelajaran) karya Drs Abdurrahman, M.Ag. Semoga sinopsis ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Sinopsis ini mungkin jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, perlu adanya kritik dan
saran untuk penyempurnaannya. Demikian hasil sinopsis yang dapat saya paparkan,
mohon maaf bila terdapat kekurangan dalam penulisan.
Batang,
27 Oktober 2013
M. Miftakhul Aziz
TENTANG PENULIS
M. Miftakhul Aziz lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Januari 1993.
Merupakan putra pertama dari pasangan Sobirin dan Halimah. Pendidikannya
dimulai dari SD Karangasem 06, dilanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Negeri
02 Batang dan Sekolah Menengah Atas Negeri 02 Batang. Saat ini penulis sedang
menempuh studinya S1 di STAIN Pekalongan Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan
Agama Islam.
Langganan:
Komentar (Atom)