Halaman

Rabu, 13 November 2013

Tsunami Di Serambi Mekah



Tsunami Di Serambi Mekah

Kesiapsiagaan kita dalam menghadapi gempa dan tsunami menjadi wajib hukumnya karena kita memang tinggal di zona tersebut. Gempa besar dan tsunami yang terjadi hampir 9 tahun lalu tentu masih terngiang-ngiang dalam ingatan kita khususnya orang Aceh. Gempa dan tsunami 26 Desember 2004 tersebut telah melululantahkan provinsi Aceh, Sumatra Utara dan beberapa negara tetangga. Kejadian ini telah mengingatkan kita bahwa gempa dan tsunami bisa terjadi kapan saja tanpa ada peringatan.
Setelah gempa dan tsunami 2004, banyak pakar seismologi, geologi, geofisika, geodesi, dan berbagai cabang ilmu kebumian telah melakukan riset. Mereka juga sudah memublikasikan tulisan mereka tentang bencana yang maha dasyat tersebut dalam seminar-seminar dan jurnal-jurnal ilmiah. Bagi kawan-kawan yang sempat ikut seminar dan membaca pembahasan mereka melalui jurnal ilmiah tentu sudah memahami penyebab terjadinya tsunami Aceh tahun 2004.
Paska bencana tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, Indonesia, melalui Pemerintah dan sejumlah institusi swasta, mulai mencurahkan perhatiannya dengan sangat aktif untuk penanggulangan bencana. Indonesia adalah salah satu negara yang rawan bencana. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipublikasikan pada hari Kamis, 20 Desember 2012, oleh Dr. Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa terdapat 386 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan tinggi dan sangat tinggi dari bahaya gempa bumi. Belum lagi bahaya banjir meliputi sebanyak 315 kabupaten/kota dengan penduduk 60,9 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan banjir tersebut. Masih menurut BNPB, dari  tahun 1629 hingga 2012, Indonesia sendiri telah tercatat dihantam tsunami sebanyak 172 kali. Hal ini berarti bahwa rata-rata setiap dua tahun sekali, Indonesia dihantam tsunami dengan itensitas jangkauan yang berskala rendah. Negara-negara tetangga kita-pun demikian halnya tidak jauh dengan Indonesia sendiri, misalnya Australia yang tercatat rata-rata setiap tiga tahun sekali baru terkena .
Alasan utama Indonesia lebih rawan terhadap tsunami dibandingkan negara-negara lain adalah karena di tanah Pertiwi ini sering terjadi gempa bumi. Gempa bumi penyebab tsunami tersebut lebih banyak disebabkan oleh aktivitas tektonik bawah laut. Lebih lanjut, aktivitas tektonik Indonesia terjadi karena negara kita merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Semakin banyak lempeng dan semakin sering pergeseran lempeng bawah laut terjadi maka wilayah di sekitarnya semakin rawan tsunami.
Gempa dan Tsunami 2004 tercatat sebagai gempa dengan bidang rekahan/patahan (rupture) terpanjang dalam sejarah gempa yang tercatat oleh manusia. Rekahan/patahan sepanjang ±1600 Km dimulai dari epicenter gempa dekat pulau Simeulue dan menerus sampai ke kepulauan Andaman dengan kecepatan ±2 Km/detik. Rekahan/patahan yang panjang ini selesai dalam waktu ±10 menit dan menjadi sumber gangguan volume air laut yang selanjutnya menjadi sumber tsunami yang sangat besar (Kerry Sieh, 2007). Kejadian Gempa dan tsunami Aceh 2004 tersebut diyakini bukan yang pertama namun yang kesekian kali.
Menurut Yuichiro, rekahan/patahan ini tidaklah satu garis melainkan bercabang-cabang dan bersegmen-segmen. Hasil percabangan rekahan/patahan ini dia dapat berdasarkan hasil permodelan gelombang tsunami. Modeling terbalik dilakukan untuk mendapat geometri sumber tsunami. Kalau biasanya ahli tsunami memodelkan tsunami dengan terlebih dahulu punya data geometri sumber namun yang dia lakukan adalah sebaliknya. Hasil dari permodelan tersebut dapat dilihat pada gambar di samping.
Percabangan rekahan/patahan yang terjadi di dasar samudra atau dasar laut menyebabkan ada kawasan-kawasan yang sekitar Aceh Besar mendapatkan gelombang tsunami tinggi dan lebih duluan dan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang lain. Kecamatan Lhoknga yang terdapat di Kab. Aceh Besar diterjang gelombang tsunami setinggi 30 meter sedangkan kawasan Meulaboh di Kab. Aceh Barat yang berada di pantai Barat Aceh malah memiliki ketinggian tsunami jauh di bawah 30 meter. Selain itu, tingginya tsunami di kawasan Lhoknga juga diakibat oleh besarnya nilai slip (bagian yang naik dan turun) daripada rekahan/patahan dibandingkan dengan segmen yang lain.
Data atau nilai yang saya sebutkan di atas adalah berdasarkan permodelan dengan kondisi yang hampir sama dengan apa yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang dilakukan oleh Yuichiro dan kawan-kawan. Selain berdasarkan model, kenyataan bahwa adanya rekahan sepanjang ±1600 Km ini juga bisa dibuktikan dengan adanya sisi pulau di dekat zona rekahan/patahan yang naik dan turun.
Suatu bencana mungkin tidak bisa dihindari. Namun demikian, jika bencana itu terjadi, kerugian yang ditimbulkan oleh bencana setidaknya bisa diminimalisasi. Oleh sebab itu, dalam artikel ini “penanggulangan bencana” diartikan sebagai usaha-usaha untuk menanggulangi atau setidaknya meminimalisasi dampak bencana yang mungkin timbul.
Di Indonesia sendiri baru setelah terjadi bencana yang besar, seperti tsunami Aceh tahun 2004, melakukan kerja-sama yang gencar antar-pemerintah dalam dan luar negeri untuk penanggulangan bencana, misalnya antara Indonesia dan Australia dengan dibentuknya Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) pada tanggal 15 Juli 2010. AIFDR ini bertujuan untuk meminimalisasi dampak buruk bencana alam dengan memperkuat kapasitas nasional dan lokal dalam penanggulangan bencana di Indonesia, dan mempromosikan daerah yang lebih tahan bencana.  AIFDR juga memberikan pelatihan bagi para manajer dan para pengambil keputusan terkait bencana (http://www.aifdr.org/).
Meskipun demikian, menurut penulis, kerjasama ini sangat rentan untuk surut dan melemah seiring berjalannya waktu jika tidak terjadi bencana tsunami lagi, katakanlah dalam waktu sepuluh tahun ke depan. Alasan utama yang memungkinan bahwa dukungan Pemerintah tersebut berangsur-angsur surut adalah alokasi dana yang cukup besar untuk penanggulangan bencana dan terkadang dirasa tidak lagi mendesak penyediaan dananya. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Meskipun menurut BNPB, diperkirakan hanya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan putting beliung yang akan mendominasi sepanjang tahun 2013, bencana geologi misalnya gempa bumi dan tsunami tidak bisa diprediksi dan bisa terjadi kapan saja.
Suatu penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana alam memerlukan sistem yang perlu bekerja secara bekesinambungan pula. Dalam hal ini, penulis sangat setuju bahwa Indonesia mempunyai BNPB, yang cikal-bakalnya telah ada sejak jaman awal kemerdekaan. BNPB inilah yang merupakan salah satu Badan yang bisa menerapkan sistem penanggulangan yang berkesinambungan atas bencana. Sebagai contoh keberhasilan BNPB adalah evakuasi korban gempa bumi dengan sistem gotong-royong di Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006. Pemulihan masyarakat Yogyakarta paska gempa pada saat itu bisa dirasakan cukup cepat (VIVAnews).
Dengan kemajuan teknologi saat ini, sistem penanggulangan bencana bisa ditetapkan berdasarkan simulasi-simulasi komputer. Salah satu perangkat lunak gratis yang tersedia untuk simulasi bencana banjir dan tsunami adalah ANUGA. Perangkat lunak ANUGA dikembangkan oleh ANU (Australian National University) dan GA (Geoscience Australia) untuk menyelesaikan model Saint-Venant sehingga bisa menyelesaikan masalah-masalah aliran air. Dengan simulasi tsunami ANUGA, bisa diketahui  wilayah mana saja yang akan tenggelam, seberapa cepat wilayah itu tenggelam, dan wilayah mana saja yang bisa digunakan untuk rute penyelamatan. Salah satu contoh hasil simulasi tsunami ANUGA dapat dilihat di ANU website. ANUGA sendiri telah dipercaya Australia dalam simulasi-simulasi bencana yang disebabkan oleh aliran air.
Meskipun demikian, ANUGA selalu di-update berdasarkan perkembangan ilmu numeris matematis yang lebih efisien secara perhitungan. Dari sini cukup jelas bahwa di Australia, perangkat lunak untuk simulasi pun juga selalu diberi dukungan yang berkelanjutan dengan adanya update yang terus-menerus. Perlu dicatat bahwa meskipun ANUGA dikembangkan oleh Australia, perangkat lunak ini boleh dimanfaatkan oleh siapa saja dan negara mana saja, termasuk Indonesia tentunya.
Penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana mutlak diperlukan. Alasan yang sangat penting adalah karena nilai kerugian bencana alam bisa menjadi tak terhingga. Kerugian tsunami Aceh 2004 sangat jelas, yaitu hampir semua wilayah Aceh rusak total yang meliputi ribuan bangunan, hutan, dan lahan pertanian menjadi luluh lantak. Lebih dari 150 ribu orang meninggal. Andai kerugiannya hanya bangunan ataupun sarana dan prasarana saja, masyarakat masih bisa menggantinya dengan membuat yang baru. Namun demikian, ratusan ribu orang meninggal karena bencana, tentu merupakan kerugian yang tak tergantikan dan tak terhingga nilainya.
Sebagai penutup, penulis sangat menekankan arti pentingnya penanggulangan yang berkelanjutan atas bencana alam di Indonesia. Seluruh elemen masyarakat juga sudah semestinya mendukung penanggulangan bencana yang berkelanjutan

Jawablh Pertanyaan di bawah ini !
1.      Jika anda yang mengalami musibah itu bagaimana perasaan anda dan apa yang anda lakukan agar timbul semangat hidup yang baru ?
2.      Menurut anda sikap apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi musibah tsunami, berikan alasannya dan contohnya !
3.      Bagaimana cara anda membantu korban tsunami untuk mengembalikan semangat hidupnya serta memupuk percaya diri ?
4.      Menurut anda apakah dengan terjadinya tsunami akan menyadarkan orang-orang yang melenceng dari syari’at Islam, berikan alasannya !
5.      Jika anda menjadi tokoh agama setempat, bagaiman upaya anda untuk menyadarkan orang-orang yang menyeleweng dari syari’at Islam agar terhindar dari musibah seperti halnya tsunami !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar